Merancang Indonesia yang Modern: Ketika Alam, Etnik, dan Durabilitas Bertemu dalam Desain Hadiprana

Afwina Kamal, Principal Architect Hadiprana Design

“Kita harus bangga sebagai orang Indonesia dan terus melestarikan budaya kita. Tapi juga harus sesuai dengan zaman—kontemporer, relevan dengan hari ini, dan memikirkan masa depan.”

Dalam dunia desain yang terus bergerak cepat, Hadiprana Design Consultant memilih untuk melangkah dengan pijakan yang kuat pada identitas. Bukan sekadar mengikuti tren global, Hadiprana justru konsisten merawat akar— menghadirkan rasa Indonesia yang berpadu dengan pendekatan modern dan berkelanjutan. Hal ini tercermin jelas dari cara Afwina, Principal Hadiprana, memaknai proses desain dari awal hingga akhir.

Desain Dimulai dari Fungsi, Berkembang Menjadi Makna.

Bagi Afwina, desain bukan soal bentuk semata, melainkan proses berpikir yang berlapis dan terstruktur. “Pertama adalah fungsi, kemudian yang kedua adalah konsep. Yang ketiga adalah message yang harus kita bawa ke klien—visi yang sesuai dengan konsep dan fungsi. Tujuan akhirnya adalah agar hasil desain tersebut benar-benar sesuai dengan harapan owner,” jelas Afwina. Pendekatan ini membuat setiap proyek Hadiprana tidak hanya indah secara visual, tetapi juga relevan, fungsional, dan memiliki narasi yang kuat.

Afwina Kamal (Principal Architect Hadiprana Design)

Indonesian Feeling sebagai Benang Merah
Menggarap proyek mulai dari hunian hingga ruang komersial, Hadiprana memiliki satu ciri khas yang konsisten: Indonesian feeling. “Kami selalu mengusung Indonesian feelings ke dalam setiap desain. Itu sudah menjadi benang merah dari Hadiprana,” ujar Afwina. Namun, nuansa Indonesia yang dihadirkan bukan sekadar simbolik. Hadiprana menekankan craftsmanship—pengolahan detail yang matang—serta pendekatan yang mindful terhadap pengguna ruang. Filosofi ini sejalan dengan nilai saujana: kebijaksanaan dalam merancang, memahami konteks, dan menghormati manusia serta lingkungannya.

Eksterior: Ruang di Mana Alam dan Material Bertemu
Ketika berbicara tentang desain eksterior, Afwina menekankan bahwa hubungan dengan alam tidak bisa dipisahkan. “Material yang digunakan harus ramah lingkungan, memiliki durability yang tinggi, dan mampu bertahan terhadap cuaca ekstrem Indonesia—panas, hujan, serta mobilitas manusia yang tinggi,” ungkapnya. Selain ketahanan, aspek visual juga menjadi krusial. “Looks-nya harus tetap natural, supaya bisa menyatu dan blending dengan alam,” tambah Afwina. Inilah tantangan utama dalam dunia material eksterior: menemukan keseimbangan antara estetika alami dan kekuatan jangka panjang.

Tantangan Material: Antara Natural Look dan
Ketahanan

Menurut Afwina, dilema klasik dalam pemilihan material adalah pertentangan antara tampilan dan performa. “Sering kali durability-nya bagus tapi tampilannya tidak natural. Atau sebaliknya, tampilannya natural tapi durability-nya sangat rendah,” jelasnya. Bagi seorang arsitek dan desainer, kemampuan menggabungkan dua hal ini menjadi kunci keberhasilan sebuah proyek.

Material Komposit sebagai Jawaban Kebutuhan
Desain Tropis

Dalam konteks ini, material berbasis komposit—seperti yang dikembangkan Skayu—menjadi solusi yang relevan. “Sangat menjawab kebutuhan, karena materialnya memadukan unsur alam dengan teknologi, tapi tetap mempertahankan looks yang natural,” ujar Afwina. “Secara looks dan rasa—ketika disentuh kaki atau tangan—feeling-nya tetap natural. Dan yang terpenting, masih masuk dengan konsep desain,” tambahnya.

Residential dan Commercial: Perbedaan pada
Skala Ketahanan

Dalam penerapannya, kebutuhan material antara proyek residensial dan komersial relatif serupa, dengan satu perbedaan utama. “Durability-nya. Untuk komersial, ketahanannya harus jauh lebih tinggi karena digunakan oleh banyak orang,” jelas Afwina. Ketahanan menjadi faktor penentu yang tidak bisa ditawar, terutama untuk ruang publik.

Masa Depan Material Outdoor: Menuju Arsitektur
yang Menyeluruh

Harapan Afwina terhadap perkembangan material outdoor cukup jelas. “Jangan berhenti di interior saja, tapi juga masuk ke arsitektur. Supaya satu material bisa digunakan untuk berbagai fungsi—indoor maupun outdoor,” tuturnya. Kunci dari harapan tersebut terletak pada satu hal: research and development yang berkelanjutan.

Melestarikan Indonesia Lewat Desain yang Relevan dengan Zaman
Afwina menegaskan bahwa inti dari seluruh proses desain adalah keberlanjutan. “Ujungnya adalah sustainability. Kita harus bangga sebagai orang Indonesia dan terus melestarikan budaya kita. Tapi juga harus sesuai dengan zaman—kontemporer, relevan dengan hari ini, dan memikirkan masa depan,” pungkasnya.

Bagi Hadiprana, merancang bukan hanya tentang menciptakan ruang, tetapi juga tentang menjaga identitas, menghormati alam, dan menyiapkan masa depan desain Indonesia yang modern tanpa kehilangan jiwanya.

Dealing With Kayu Made Easy